SEJARAH DESA CIPAKEM
Cerita ini merupakan hasil dari penelitian singkat, pendek, dan dangkal tentang sejarah Cipakem, yang ditelusuri sejak beberapa tahun kebelakang dari sekarang, cerita ini di dapat dari berbagai sumber yang secara pengetahuan dan usianya dapat di percaya sebagai informan mengenai seluk beluk asalmula desa Cipakem yang besar ini. 

Semoga informasi ini bisa menambah wawasan dan pengetahuan bagi pembaca sehingga lebih mencintai dan menumbuhkan rasa memiliki terhadap Cipakem yang bersejarah ini, karena masyarakat yang beradab dan maju adalah masyarakat yang tidak melupakan jati dirinya. Dengan ini mudah-mudahan generasi penerus desa cipakem selalu mengingat perjuangan leluhurnya dalam membangun desa, serta memelihara dan melestarikan tradisi-tradisi yang ada, sehingga terhindar atau tidak terjebak degnan prilaku menyimpang yang justru menghambat kemajuan desa.
Berikut hasil penelusuran singkat, yang sifatnya sebagai informasi dan semoga memberi gambaran tentang sejarah Cipakem.
GAMBARAN SINGKAT SEJARAH DESA CIPAKEM
(VERSI CERITA RAKRAT)
 
Keterangan: Tulisan di baris atas adalah aksara Jawa/Sunda dalam tulisanan HaNaCaRaKa (artinya: karuhun Cipakem, eyang sang kuwu, eyang candera saraya, eyang samiulin, eyang martapada seperti baris kedua di tulis dalam tulisan latin.
Di ceritakan, jauh pada jaman dahulu sebelum Desa Cipakem terbentuk, ada tiga orang yang datang ke daerah pegunungan sekitar Cipakem, yang di utus dari Cirebon. yaitu Raden Adipati yang pertamakali membuat rumah dan menjadi lembur di Cikalapa. Raden Raksagati dan Raden Raksapati yang mengoyak daerah ngolah nagara di Walahar dan di Cisetra. Raden Raksagati mempunyai anak yang di kenal dengan sebutan Eyang Sangkuwu Warga Bumi yang kemudian membuka lahan permukiman di Cipicung atau Cibitung Sekitar Ciceuri (sekarang dusun Cireuri masuk ke Desa Giriwaringin) yang merupakan cikal bakal Cipakem saat ini.

Di ceritakan pula, ada sekumpulan orang dari Mataram yang melakukan perjalanan untuk menghindari peperangan kerajaan Jawa di Mataram pada masa itu (Kesultanan Mataram Islam terbentuk pada abad ke-17), hingga sampailah di daerah gunung rabuk. di pimpin oleh seorang yang dikenal dengan nama Samiudin (Eyang) artinya adalah agama yang sama yaitu Islam, eyang Samiudin dikenal juga dengan sebutan Eyang Samiulin, bermukim di kaki gunung Rabuk yang kemudian daerah tersebut di namakan Anggataruna, peninggalannya atau bukti dari keberadaan daerah tersebut disana terdapat makam warga Anggataruna.

Untuk mencari tempat persembunyian yang lebih aman dan nyaman dalam usahanya yang pada jaman dahulu terkenal dengan kesaktiannya, Eyang Samiudin bertapa di kelaban sekitar gunung Rabuk untuk mendapatkan petunjuk dari yang maha kuasa. Kemudian pada saat bertapa eyang Samiudin melihat gemerlap cahaya pada pandangannya, di daerah sebelah barat (kulon) lalu mengikutinya dengan menuruni bukit-bukit Semprong Walanda lalu ke Mungkalawang, agar tidak lupa jalan kembali ke Anggataruna, Eyang Samiudin menancap-nancapkan batang pohon sepanjang jalan. Setelah sampai pada sumber cahaya yang dimaksud, ternyata cahaya tersebut adalah pantulan sinar matahari pada sisir gading seorang putri cantik yang sedang mandi dan menyisir rambutnya di sungai, sekarang sungai itu dikenal dengan sebutan sungai Sirigading (berasal dari kata sisir gading). Putri tersebut adalah anaknya eyang Sang Kuwu Wargabumi  yaitu Dewi Lembu yang tinggal di daerah tersebut yang sudah mempunyai nama yaitu Cipicung. Lalu, beralihlah warga Anggataruna ke Cipicung.

Dewi Lembu ialah seorang putri yang sangat cantik luarbiasa pada masa itu, dan banyak lelaki yang ingin mempersuntingnya, dan membuat repot Eyang Sang Kuwu karena banyak yang memperebutkannya. Hingga sampailah diadakan sayembara sebagai syarat untuk mempersunting bagi yang memenangkannya. Dan sayembara tersebut di menangkan oleh Eyang Samiulin, beliau berhasil berdiri dan melakukan solat di atas daun pisang, sehingga membuat takjub Eyang Sang Kuwu. Kemudian Eyang Samiulin menikahi Dewi lembu dan mempunyai dua orang putri yaitu Nyi Mas Kenanga dan Nyimas Cempaka.

Singklat cerita, sekitar abad ke-17 tepatnya pada tahun 1770 atau ada juga yang menyebutkan sekitar abad ke-18 tepatnya pada tahun 1824 Cipicung di ubah namanya menjadi Cipakem pada masa penjajahan Belanda waktu itu (berdasarkan literature yang ada, VOC mulai masuk jawa dan berpusat di Batavia pada masa itu). Dan menurut cerita lain, Cipakem adalah tempat semahyangnya ilmu lahir dan ilmu batin, yang ketika terjadi perumusan wilayah pemerintahan, kesimpulan dan keputusannya selesai di Cipakem (pakem/berhenti/selesai).

Dan sudah 17 kuwu yang memimpin cipakem sampai saat ini, namun baru 15 kuwu yang sudah diketahui namanya. Berikut nama-nama sesepuh Desa Cipakem tersebut: 

1.    Eyang Sang Kuwu Wargabumi (Cipicung), pemimpin yang merakyat dan mengayomi rakyat.
2.    Eyang Samiulin atau Samiudin
(Mataram), beliau mempunyai banyak keterampilan dan berilmu tinggi,   juga berwibawa dalam memimpin rakyat.
3.    Eyang Canderasaraya
(Cirebon), Pemimpin yang mengajak semua eleman masyarakat untuk bersama-sama (sasaraya) membanguan Cipakem
4.    Kuwu Sinandaka
(Cirebon Girang)
5.    Kuwu Gede
6.    Kuwu Jangkung
7.    Kuwu Abdu
8.    Kuwu Makum
9.    Kuwu Subang,
10.    Kuwu Suhaena 
11.    Kuwu Ero
12.    Kuwu Warda
13.    Kuwu Umri
14.    Kuwu Diding Wahyudin
15.    Kuwu Uci Sanusi


Cerita di atas masih jauh dari kesempurnaan karena sulitnya menemukan orang yang mengetahui secara menyeluruh tentang asal muasal Desa Cipakem, serta tidak adanya tulisan-tulisan yang membantu, namun mengingat sejarah Cipakem yang terlupakan dan semakin jarang yang mengetahuinya, sehingga beresiko memberikan dampak buruk kepada pemahamann keturunan Cipakem, mudah-mudahan cerita ini bisa sedikit memberi manfaat dan mengingatkan pembaca pada leluhur Cipakem yang merupakan desa tua dan bersejarah yang harus dijaga dan di lestarikan.
Lalu bagaimanakah versi aslinya yang sesuai dengan buku sejarah Desa Cipakem, yang pernah di tulis dalam aksara Jawa/Sunda oleh leluhur Cipakem, konon katanya di tuliskan di atas lembaran daun yang sekarang tidak diketahui keberadaannya.

Komentar

  1. poto semua manta kuwu cipakem

    BalasHapus
  2. Asalamualaikum hampunten bapak atau ibu abi wargi cipakem, nuhunken ijina tos lancang copy tulisan sejarah cipakem.🙏

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer